Saturday, March 1, 2008

TVone, Berita 70 Persen, Hiburan dan Olahraga 30 Persen

http://www.inilah.com/berita.php?id=12343
Kamis, 14 Februari 2008
Wajah Baru tvOne Rp 1,3 Triliun
ASTERIA

INILAH.COM, Jakarta â€" Kondisi ekonomi global boleh ketat, Bakrie Grup tetap mampu menggeliat. Dengan kesiapan dana Rp 1,3 triliun, mereka menyulap Lativi menjadi tvOne. Kamis (14/2) malam, tayangan langsung dan segar tvOne resmi diluncurkan.

Tayangan berbau klenik, erotisme, berita kriminal, dan paket-paket hiburan ringan gaya Lativi sudah tutup buku. Sejak semalam, nama dan logo berubah menjadi tvOne.

Tentu, perubahan tidak berhenti sampai di situ. Segmentasi diubah total. tvOne membidik kalangan premium class. Otomatis, komposisi tayangannya pun dirombak habis. tvOne hadir dengan 70% berita dan 30% tayangan olahraga plus hiburan yang terseleksi.

"Kami tidak hanya mengubah logo dan program, tapi juga target pasar. Dengan konsep berita, olahraga dalam dan luar negeri, serta hiburan yang terseleksi, kami ingin membuat masyarakat Indonesia jadi semakin cerdas," kata Direktur Utama PT Lativi Mediakarya Erick Thohir.

Erick meyakini perubahan pola siaran ini akan menjadi tren baru industri pertelevisian. Biasanya, perubahan hanya menyangkut nama dan logo. Tapi, stasiun televisi yang dikelolanya berubah seluruhnya, dari nama, logo, konten tayangan sampai target market.

Nama tvOne dipilih sebagai bagian dari strategi manajemen untuk memberikan suguhan baru, lebih segar sekaligus berbeda di industri pertelevisian nasional.

"Nama tvOne dipilih karena secara individu dan korporasi stasiun televisi ini diharapkan menjadi nomor satu," tandas Erick.

Seiring revolusi teknologi penyiaran dan persebaran informasi, korporasi-korporasi media terbentuk dan menjadi besar lewat kepemilikan saham. Sebuah upaya penggabungan berbentuk joint-venture, kerja sama, atau pendirian kartel komunikasi raksasa.

Fenomena ini bukanlah fenomena bisnis semata, melainkan juga menyangkut sisi ekonomi-politik yang melibatkan kekuasaan.

PT Lativi Media Karya didirikan pada 2001 dan dikuasai Alatief Corporation milik Abdul Latief, pengusaha yang pernah diangkat sebagai Menteri Tenaga Kerja.

Sebelumnya, stasiun televisi ini hendak dinamakan Pasaraya Mediakarya untuk keperluan lini bisnis Latief lainnya, yaitu ritel pakaian. Tapi, jelang mengudara, ditetapkan nama perusahaan ini menjadi PT Lativi Mediakarya.

Dalam perkembangannya, dengan alasan ingin fokus pada bisnis inti keluarga (Pasaraya), Latief akhirnya melepas kepemilikan Lativi. Kini, PT Lativi Mediakarya digawangi tiga pengusaha muda.

Ketiga sosok muda itu tengah bergelora di pelataran bisnis nasional. Ketiganya adalah Anindya Bakrie dari Bakrie Grup, Rosan Perkasa Roeslani (Presiden Direktur Recapital), dan Erick Thohir (Mahaka Grup) yang semula komisaris PT Lativi Mediakarya. Ketiganya bergabung lewat sebuah konsorsium.

Ketiganya juga bukan orang baru di bisnis media. Mahaka Grup, misalnya, punya 50% saham Jak-TV melalui PT Metropolis Media Nusantara. Metropolis adalah pemegang saham pengendali PT Abdi Bangsa Tbk (ABBA), di mana Erick menjadi direktur utama.

Sementara Anindya Bakrie, putra pengusaha Aburizal Bakrie yang juga Menko Kesra, memiliki sekaligus mengelola antv di bawah bendera PT Cakrawala Andalas Televisi yang berbagi saham dengan StarTV, raksasa media Hong Kong milik Rupert Murdoch.

Bakrie Grup memang sudah lama mengincar >i>Lativi, terutama sejak kewajiban utang Lativi kepada Bank Mandiri senilai Rp 418 miliar telah dilunasi oleh Konsorsium Capital Managers Asia Pte Ltd (CMA) awal 2007.

Sebagai sebuah institusi jasa keuangan yang berbasis di Singapura, CMA sudah memiliki kedekatan dengan kelompok usaha Bakrie. Pasalnya, CMA menanamkan investasi Rp 250 miliar untuk pengembangan Esia di 2004 dan tercatat pula sebagai pemegang saham minoritas di antv.

Erick menampik rumor yang menyatakan StarTV masuk dalam struktur kepemilikan PT Lativi Mediakarya. Tapi, sebuah sumber mengungkapkan grup media yang berbasis di Hong Kong itu masuk sebagai salah satu pemilik meski saham mayoritas didominasi Bakrie Grup.

Kemungkinan besar siaran tvOne bakal menjadi salah satu konten B-TV, televisi berbayar milik kelompok usaha Bakrie. “Mungkin baru mengisi B-TV pertengahan tahun,” kata Erick.

Kehadiran tvOne mempertegas kecenderungan konsolidasi bisnis teve yang marak dilakukan pemilik perusahaan untuk menekan biaya operasi.

Kepemilikan media, ternyata, bukan hanya berurusan dengan persoalan produk, tapi berkaitan pula dengan bagaimana kondisi sosial, citra, berita, pesan, dan kata-kata dikontrol dan disosialisasikan kepada masyarakat.

Juga tak bisa dilepaskan dari karakteristik institusi bisnis yang diharapkan mampu memberikan kontribusi besar bagi perekonomian nasional. [E1/I3]


--
Tribun Timur, Surat Kabar
Terbesar di Makassar
www.tribun-timur.com

1 comment:

Anonymous said...

makassar-updating.blogspot.com is very informative. The article is very professionally written. I enjoy reading makassar-updating.blogspot.com every day.
quick loan
payday loan